.breadcrumbs{padding:0 5px 5px 0;margin:0 0 5px;font-size:11px;border-bottom:1px dotted #ccc;font-weight:normal}
Latest Movie :

PENELITIAN DI PUSKESMAS BANDA SAKTI

PENELITIAN DI PUSKESMAS BANDA SAKTI



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI 2003), angka kematian bayi di Indonesia masih tinggi sebesar 35/1000 kelahiran hidup dan kematian awal neonatus 224/1000 kelahiran. Penyebab utama kematian karena penyakit infeksi saluran nafas 27,6% dan diare 9,4%. Dinegara berkembang 1000 milyar lahir setiap tahun dan 5 milyar dari bayi terkena diare, 1 milyar mati karena diare yang di sebabkan oleh pemberian susu formula (Husnah et al., 2008)
Bayi yang diberi susu formula mengalami kesakitan diare 10 kali lebih banyak yang menyebabkan angka kematian bayi juga 10 kali lebih banyak, infeksi usus karena bakteri dan jamur 4 kali lipat lebih banyak, sariawan mulut karena jamur 6 kali lebih banyak. Penelitian di Jakarta memperlihatkan persentase kegemukan atau obesitas terjadi pada bayi yang mengkonsumsi susu formula sebesar 3,4% dan kerugian lain menurunnya tingkat kekebalan terhadap asma dan alergi (Dwinda, 2006).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Cohen dan kawan-kawan di Amerika pada tahun 1995 diperoleh bahwa 25% ibu-ibu yang memberikan ASI secara eksklusif pada bayi dan 75% ibu-ibu yang memberikan susu formula pada bayi. Bayi yang mendapatkan ASI secara eksklusif lebih jarang terserang penyakit dibandingkan dengan bayi yang memperoleh susu formula, karena susu formula memerlukan alat-alat yang bersih dan perhitungan takaran susu yang tepat sesuai dengan umur bayi. Hal ini membutuhkan pengetahuan ibu yang cukup tentang dampak pemberian susu formula (Roesli, 2000).
Susu formula memiliki resiko yang besar terjadi gangguan dan alergi. Ditambah lagi dengan penggunaan perlengkapan untuk menyajikan susu kepada anak misal dot harus benar-benar steril, jika tidak maka bahaya lanjutan berupa kuman-kuman dari wadah yang tidak bersih dan steril bisa menyerang anak (Eko, 2011)
Rekomendasi dari WHO (World Health Organization) dan UNICEF di Geneva pada tahun 1979 menyusui merupakan bagian terpadu dari proses reproduksi yang memberikan makanan bayi secara ideal dan alamiah serta merupakan dasar biologik dan psikologik yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Memberikan susu formula sebagai tambahan dengan dalih apapun pada bayi baru lahir harus dihindarkan. (Wiknjosastro, 2002).
Angka kejadian dan kematian akibat diare pada anak-anak di negara-negara berkembang masih tinggi, lebih-lebih pada anak yang sedang mendapat susu formula dibandingkan dengan anak yang mendapat ASI. Meningkatnya penggunaan susu formula dapat menimbulkan barbagai masalah, misalnya kekurangan kalori protein tipe marasmus, moniliasis pada mulut, dan diare karena infeksi (Soetjiningsih, 1997).
Menurut IPB (institut pertanian Bogor), gejala keracunan yang di timbulkan  oleh susu formula pada bayi tidak disebabkan oleh komponen biokimia atau bahan yang terkandung di dalamnya namun dikarenakan oleh bakteri E.sakazakii yang terdapat dalam susu formula, dari hasil penelitian terhadap 74 sampel susu formula 13,5% diantaranya mengandung bakteri berbahaya tersebut maka menetapkan bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk komersial yang steril (Novayanti, 2008).
Dari hasil penjajakan awal yang di lakukan di Puskesmas Banda Sakti Kota Lhokseumawe selama 1 minggu, jumlah ibu hamil trimester III dari bulan Januari sampai April 2012 sebanyak 142 orang dan bayi yang terkena diare sebanyak 27 orang, ternyata dari sekian ibu-ibu hamil ada beberapa diantara yang pernah memberikan susu formula maka dari uraian di atas penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Bahaya Pemberian  Susu Formula”.

B.  Perumusan Masalah
 Bayi yang mendapatkan ASI secara eksklusif lebih jarang terserang penyakit dibandingkan dengan bayi yang memperoleh susu formula, karena susu formula memerlukan alat-alat yang bersih dan perhitungan takaran susu yang tepat sesuai dengan umur bayi. Hal ini membutuhkan pengetahuan ibu yang cukup tentang dampak pemberian susu formula. Maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah” Bagaimana gambaran pengetahuan ibu hamil tentang bahaya pemberian susu formula di Puskesmas Banda Sakti Kota Lhokseumawe  tahun 2012”.
C.  Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang bahaya pemberian susu formula di Puskesmas Banda Sakti Kota Lhokseumawe  tahun 2012.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Praktis
a.    Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai salah satu persyaratan bagi mahasiswa untuk mendapatkan gelar Ahli Madiya Kebidanan dan sebagai referensi bagi perpustakaan di Akademi Kesehatan Pemerintahan Kabupaten Aceh Utara.
b. Bagi Ibu
     Dapat menambah pengetahuan baru bagi ibu hamil tentang bahaya pemberian susu formula.
c.Bagi Masyarakat
Penelitian ini akan menjadi informasi dan masukan dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang bahaya pemberian susu formula.
2. Manfaat Teoritis
a. Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi peneliti dalam menerapkan ilmu yang sudah di dapat dari pendidikan.

b. Bagi Peneliti Lain
Sebagai bahan masukan dan pembanding untuk penelitian yang sejenis demi kesempurnaan penelitian tersebut.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.Konsep Pengetahuan
1.  Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindaran terhadap suatu objek tertentu. Pengindaran terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007).
2.    Tingkatan Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan mencakup tindakan sebagai berikut :
a.    Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk ke dalam pengetahuan.Tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b.    Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c.    Aplikasi (aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi real (sebenarnya).
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e.    Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
f.     Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
3.    Faktor-faktor Yang Mempengaruhi pengetahuan
Menurut Notoadmojo (2003) pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor adalah :
a.    Pendidikan
Pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, maka jelas dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan manusia.
b.    Media
Media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Jadi contoh dari media massa ini adalah televisi, radio, koran, dan majalah.
c.    Sosial budaya dan ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang di lakukan orang-orang tanpa melalui penalaran apakah yang di lakukan baik atau buruk, status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.
d.   Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial, lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan tarsebut.
e.    Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang di peroleh dalam memecahkan masalah.
f.     Usia
Usia mempengaruhi terhadap gaya tangkap dan pola piker seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang di perolehnya semakin membaik.
Menurut Nursalam (2003), usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Umur atau usia adalah satuan waktu yang mengukur keberadaan suatu benda atau makhluk, baik yang hidup maupun yang mati.

A.  Konsep Kehamilan
Kehamilan merupakan suatu proses yang alamiah dan fisiologis. Setiap wanita yang memiliki organ reproduksi sehat yang telah mengalami menstruasi dan melakukan hubungan seksual dengan seorang pria yang organ reproduksinya sehat sangat besar kemungkinannya akan mengalami kehamilan (Mandriwati, 2008).
Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi terakhir dan kelahiran (38 minggu dari pembuahan). Istilah medis untuk wanita hamil adalah gravida, sedangkan manusia di dalamnya disebut embrio (minggu-minggu awal) dan kemudian janin (sampai kelahiran) (Astria, 2009).
Pada umumnya kehamilan berkembang dengan normal dan menghasilkan kelahiran bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir, namun kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan (Kusmiyati et al , 2008).
Kehamilan adalah masa di mulai dari kontrasepsi sampai janin lahir, lama hamil normal yaitu 280 hari atau 9 bulan 7 hari yang di hitung dari hari pertama haid terakhir ( Wiknjosastro, 2003).
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin adalah kira-kira 280 hari (40 minggu) dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu). Kehamilan dibagi menjadi tiga triwulan, triwulan I di mulai dari konsepsi sampai 12 minggu, triwulan II dari 12 sampai 28 minggu dan triwulan III dari 28 sampai 40 minggu (Lerant, 2010).
Dalam triwulan pertama alat-alat mulai dibentuk. Dalam triwulan kedua alat-alat telah dibentuk, tetapi belum sempurna dan viabilitas janin masih disangsikan. Janin yang di lahirkan dalam trimester terakhir  telah viable (dapat hidup). Bila hasil konsepsi dikeluarkan dari kavum uteri pada kehamilan di bawah 20 minggu disebut abortus (keguguran). Bila hal ini terjadi dibawah 36 minggu disebut partus prematurus. Kelahiran dari 38 minggu sampai 40 minggu disebut partus aterm. Bila kehamilan lebih dari 43 minggu disebut postmatur (Winkjosastro, 2005).

B.  Konsep Bahaya Pemberian Susu Formula
Meningkatnya resiko infeksi yang berasal dari susu formula yang tercemar dari kasus merebaknya wabah Enterobacter Sakazzaki, dilaporkan kematian seorang bayi berusia 20 hari yang mengalami demam, menurunya aliran darah dan kejang pada usia 11 hari. E. Sakazzaki adalah kuman yang terlacak pada bubuk susu formula (Roesli,2008).
Sukrosa merupakan sejenis karbohidrat dalam susu yang dapat mamberikan rasa manis dan sumber energi cepat untuk tubuh (dapat meningkatkan gula darah dalam waktu singkat). Konsumsi sukrosa dalam jumlah berlebihan dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan karies pada gigi. Jika makanan yang dimakan mengandung gula, pH mulut akan turun dalam waktu 2,5 menit dan tetap rendah selama 1 jam. Bila sukrosa dikonsumsi 3 kali sehari, artinya pH mulut selama 3 jam akan berada dibawah 5,5.Dan ini tidak terjadi di permukaan, melainkan subsurface/lapisan di bawah permukaan gigi. ( Asrori, 2011).
Susu formula memiliki resiko yang besar terjadi gangguan dan alergi. Ditambah lagi dengan penggunaan perlengkapan untuk menyajikan susu kepada anak misal dot harus benar-benar steril, jika tidak maka bahaya lanjutan berupa kuman-kuman dari wadah yang tidak bersih dan steril bisa menyerang anak (Eko, 2011).
Di dalam air susu ibu terdapat laktosa yang di ubah menjadi asam laktat, maka akan menghambat pertumbuhan bakteri berbahaya dan menjadikan tempat yang subur bagi bakteri usus yang baik yaitu Lactobacilus bifidus. Faktor bifidus ini akan rusak dalam 2 hari setiap kali bayi diberi susu formula, hal ini disebabkan oleh adanya protein asal mamalia yang akan menimbulkan alergi dan bayi akan mengalami diare.Terganggunya faktor bifidus juga akan menyebabkan vitamin yang seharusnya dibentuk di usus tidak dapat dibentuk sehingga sangat merugikan perkembangan bayi yang sedang mengalami tumbuh-kembang pesat (Purwanti 2004).
Bayi yang diberi susu formula lebih beresiko memiliki gigi yang berlubang, hal ini disebabkan karena pemberian susu formula dengan botol dan dot, terutama pada malam hari menjelang tidur menyebabkan gigi lebih lama kontak dengan sisa-sisa susu formula. Sisa-sisa susu akan terurai menjadi senyawa-senyawa asam yang dapat merusak gigi bayi (Arif 2009).
Dibandingkan dengan ASI, susu formula memiliki banyak kelemahan terutama dalam hal kandungan gizinya. Selain itu, penggunaan susu formula harus dikontrol dari kemungkinan masuknya organisme-organisme patogen, yang akan menyebabkan terjadinya perubahan kualitas dari zat-zat gizi yang terkandung di dalam susu formula. Apabila bayi meminumnya maka dapat mengakibatkan diare (Krisnatuti et al., 2000).
Terdapat berbagai kerugian atau bahaya yang dapat ditimbulkan dari penggunaan susu formula seperti: rentan terhadap terkenanya penyakit, gangguan ginjal, gangguan pencernaan, alergi, tersedak, congekan, muntah dan perut kembung, kebutuhan tidak terkontrol, serta kehilangan rasa aman dan terlindungi (blogspot, 2008).
Beberapa kerugian susu formula menurut Purwanti, (2008) adalah:
1. Segi Kandungan
a)       Rentan terhadap penyakit
Air susu ibu (ASI) banyak mengandung zat antibody (zat yang meningkatkan kekebalan tubuh), sehingga bayi yang mendapatkan air susu ibu secara tidak langsung sudah mendapatkan kekebalan terhadap kuman penyebab penyakit.

b)      Beban pada ginjal
Kandungan protein pada susu formula jauh lebih tinggi dari air susu ibu, sehingga jumlah zat yang larut pada susu formula lebih tinggi yang mengakibatkan beban pada ginjal.
c)       Gangguan pencernaan
Pada air susu ibu, kandungan lemaknya mudah diserap dibanding dengan lemak yang terdapat pada susu formula. Pada bayi premature (kurang bulan) yang diberi susu formula sering timbul gangguan pencernaan dimana buang air besarnya bercampur dengan lemak.
d)   Pencemaran oleh kuman
Air susu ibu pada umumnya bebas kuman, kecuali bila ibu menderita suatu penyakit infeksi. Pada susu formula kemungkinan terjadinya pencemaran oleh kuman besar.
e)       Alergi
Belum pernah terjadi adanya bayi yang alergi terhadapat air susu ibu. Namun kemungkinan timbulnya alergi terhadap susu formula ada, karena terbuat dari susu sapi dan dalam proses pengolahan susu formula telah ditambahkan beberapa bahan lain.
f)    Muntah dan perut kembung
Sering terjadi posisi botol dot tidak pas sehingga udara dapat terhisap, yang bisa menyebabkan muntah dan perut kembung.

2.    Kerugian pada ibu
Menyusui langsung anak dengan air susu ibu menyebabkan rahim cepat mengkerut, ini berguna untuk mengentikan perdarahan setelah melahirkan. Pada penggunaan susu formula tentunya hal ini tidak terjadi. Ibu-ibu yang menyusui anaknya juga terbukti menjarangkan kehamilan walau tidak 100%, pada penggunaan susu formula tidak menjarangkan kehamilan sama sekali. Penggunaan susu formula dapat menurunkan rasa keibuan dan eratnya hubungan ikatan batin antara ibu dan anak.
3.          Beberapa perbandingan kekurangan susu formula dengan ASI , diantaranya adalah:
a)    menimbulkan alergi
b)   Bisa menimbulkan diare pada bayi.
c)    Nutriennya Mudah tidak sesempurna ASI.
d)   Lebih mudah menimbulkan gigi berlubang.
e)    Kurang memiliki efek psikologis yang menguntungkan.
f)    Tidak merangsang involusi rahim.
g)   Tidak menjarangkan kehamilan.
h)   Tidak mengurangi kejadian kanker payudara.
i)     Tidak praktis dan ekonomis.
j)     Kerugian bagi  negara menambah beban anggaran yang harus     dikeluarkan   untuk membeli susu formula, biaya perawatan ibu, dan anak (Jaka, 2010)
4.  Susu formula tidak di anjurkan kepada bayi karena:
a)             Susu formula mudah terkontaminasi.
b)             Pemberian susu formula yang terlalu encer akan membuat bayi kurang gizi.
c)             Pemberian susu formula yang terlalu kental akan membuat bayi kegemukan (Proverawati, 2010).
















D.Kerangka Teori
Domain Kognitif :
Tahu
Memahami
Aplikasi
Analisis
 sintesis
Evaluasi

 
            Dari teori yang telah diuraikan diatas, maka dapat dijabarkan kerangka teori menurutMachfoedz (2010) sebagai berikut :


 







Gambar 2.1 Kerangka teori
Modifikasi  : (Machfoedz, 2010), (Nursalam, 2003), (Notoatmodjo, 2007), (Notoatmodjo, 2003).                                                            
Keterangan :                     : Diperoleh dari (tidak diteliti)      
                  : Ada hubungan/ada pengaruh (tidak diteliti)
                  : Tingkat domain yang digunakan dalam penelitian
                  : Kategori yang digunakan
                  : Dimensi tingkat pengetahuan susu formula yang diteliti
    : Yang    : yang diteliti


BAB III
KERANGKA KONSEP

A.  Variabel Penelitian
Kerangka Konsep dalam penelitian ini berdasarkan dari kerangka teori sehingga dapat digambarkan kerangka konsep sebagai berikut :






Kategori
Baik
Cukup
kurang

 


 
                                                          


 
Dimensi


 


             



Gambar  3.1  Kerangka Konsep


B.       Definisi Operasional

No
Variabel
Definisi Operasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Skala Ukur
Hasil Ukur
1
Pengetahuan ibu menyusui tentang bahaya pemberian susu formula
Hasil tahu ibu menyusui tentang  hal-hal  yang merugikan dalam pemberian susu buatan pengganti Air Susu ibu (ASI).
Penyebaran Kuesioner
Kuesioner
Ordinal
Baik
Cukup
Kurang


C.    Metode Pengukuran Variabel
Untuk mengukur pengetahuan Ibu menyusui tentang bahaya pemberian susu formula peneliti menyusun pertanyaan berupa kuisioner yang berisi 20 pertanyaan.
1.      Penilaian
Menurut Erfandi (2009), untuk setiap pertanyaan kriteria penilaian adalah sebagai berikut :
a.       Jika menjawab Ya = 1
b.      Jika menjawab Tidak = 0




2.      Pengkatagorian
                        Kriteria penilaian dibuat menurut Nursalam (2003) sebagai berikut :
a.             Baik       : Bila responden dapat menjawab dengan benar : 76 %-100 % dari seluruh pertanyaan yang diberikan kepada kuisioner.
b.             Cukup    : Bila responden dapat menjawab dengan benar : 56 %-75 % dari seluruh pertanyaan yang diberikan kepada kuisioner.
c.             Kurang  : Bila responden dapat menjawab dengan benar : <56 % dari seluruh pertanyaan yang diberikan kepada kuisioner.



BAB IV
METODE PENELITIAN


A.  Jenis penelitian
Penelitian ini bersifat Deskriptif, yaitu penelitian yang akan menggambarkan seluruh subjek penelitian (Machfoedz, 2010). Dalam penelitian ini peneliti ingin mendapatkan fenomena yang muncul mengenai gambaran pengetahuan ibu hamil tentang bahaya pemberian susu formula di Puskesmas Banda Sakti Kota Lhokseumawe tahun 2012.

B.  Tempat dan waktu penelitian
1.      Tempat penelitian
Penelitian ini telah dilakukan di Puskesmas Banda Sakti  Kota Lhokseumawe tahun 2012.
2.      Waktu Penelitian
Penelitian telah dilakukankan pada tanggal 05 sampai 23 Juni 2012.
C.  Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh ibu-ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas Banda Sakti Kota Lhokseumawe tahun 2012 yang berjumlah 30 orang.    
2.      Sampel
Teknik pengambilan Sampel dalam penelitian ini adalah secara Accidental sampling yaitu dengan mengambil seluruh populasi ibu-ibu hamil trimester III yang berkunjung ke Puskesmas Banda Sakti Kota Lhokseumawe.

D.  Cara Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam  penelitian ini adalah data primer dengan cara memberi kuesioner langsung pada ibu-ibu hamil, kuesioner dibagikan sendiri oleh peneliti dan harus diisi di Puskesmas Banda Sakti tanpa boleh dibawa pulang, kemudian setelah kuesioner tersebut terisi peneliti kumpulkan sesuai dengan nomor urut untuk di olah datanya.

E.  Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan adalah berupa kuesioner dalam pernyataan ya atau tidak.

F.   Rencana dan analisis data
1.      Rencana pengolahan data
Menurut Budiarto (2002), pengolahan data merupakan proses yang sangat penting dalam penelitian. Oleh karena itu harus dilakukan dengan baik dan benar. Pengolahan data dilakukan secara manual melalui tahap :

a.    Pemeriksan data (Editing)
Yaitu memeriksa data yang telah di kumpulkan dari daftar pertanyaan. Yang dilakukan pada kegiatan memeriksa data ialah menjumlahkan dan melakukan koreksi.
b.    Pemberian kode (Coding)
Untuk mempermudah pengolahan, sebaiknya semua variable di beri kode terutama data klasifikasi.
c.    Penyusunan data (Tabulating)
Yaitu pengorganisasian data sedemikian rupa agar dengan mudah dapat dijumlah, disusun, dan ditata untuk disajikan.
2.      Analisis Data
Menurut Budiarto (2002), Penelitian ini hanya bersifat deskriptif, yang menggunakan tabel distribusi frekuensi disetiap variabel yang di gunakan untuk perhitungan hasil ukur yang kemudian di persentasekan dengan rumus:
 P =     
Keterangan :
P = Presentase
f  = Frekuensi teramati
N = Jumlah seluruh observasi
Artikel Terkait
Share this article :

+ komentar + 2 komentar

11 Maret 2013 06.24

Terimakasih .............

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Blog lussy Chandra - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger